Sabar

0 comments

Sabar dipandang dari permasalahan seseorang ibarat kepala dari suatu tubuh, apabila kepalanya hilang maka busuklah bagian tubuh yang lain. Begitu juga halnya jika kesabaran hilang maka seluruh permasalahan akan rusak.

untuk seseorang yg sedang mencoba untuk bersabar, semoga berhasil!!


Jodoh

0 comments

Sebenarnya Paryono sudah sudah pantas untuk menikah, karena disamping umurnya yang sudah 29 tahun juga dia sudah punya pekerjaan tetap, biarpun dia cuma karyawan biasa disebuah perusahaan pengiriman barang. Posisi di perusahaan itupun sudah bias dikatakan lumayan yaitu sebagai tukang cek barang-barang yang akan dikirimkan kepada pelanggan. Tetapi benar apa kata kyai-kyai bahwa jodoh, rejeki dan mati adalah Tuhan yang menentukan, biarpun kita tetap harus berusaha untuk itu. Dan Paryono juga memaklumi hal itu, mungkin jodoh belum mampir ketempatnya. Sudah dua kali Paryono pacaran, tetapi dua kali itu juga Paryono kandas di tengah jalan.

Pagi itu Paryono berangkat kerja seperti biasanya, dengan mengendarai motor Honda cap Win 100 yang lumayan buat ukuran Paryono. Dan Paryono patut berbangga karena motor tersebut hasil jerih payahnya selama bekerja. Dia hari itu ada kerjaan mengantarkan barang di tempat pelanggan, karena ada salah satu anak buahnya yang sakit, sehingga terpaksa Paryono menggantikan anak buahnya itu.

Sepanjang perjalanan ke alamat yang dituju kadang Paryono melamun memikirkan jodoh yang belum juga didapatkanya. Tiba-tiba saja… mak jegagik.. ada becak dari arah yang berlawanan menyeberang dengan seenak perutnya. Alhasil dengan sangat terpaksa Paryono menyenggol juga bokong si becak, dan…. Gubrakkkkk…. Duerr… Paryono merasa dunianya menjadi gelap, segelap jodoh yang di carinya.

“Eh masnya sudah bangun.. selamat pagi mas.. “ secercah senyum manis diberikan kepada Paryono, dari seorang yang berpakaian putih-putih.

“ Dimana saya ini, apa saya sudah bertemu sama bidadari..??”, batin paryono demi melihat sesosok tubuh di depannya, dengan senyum manisnya.

“Mas.. istirahat saja kalau masih merasa pusing, atau sakit, nanti dokter akan datang memeriksa”, kata perempuan cantik, didepan Paryono yang ternyata seorang suster sebuah Rumah sakit.

Dan ternyata Paryono sempat pingsan selama semalam, akibat kecelakaan itu, dan sekarang Paryono hanya bisa mengingat-ingat kejadian itu. Dan suster cantik itu senyumnya begitu mempesona, bagaikan setetes air di padang gersang bagi Paryono yang tengah terbaring lemah, akibat menyenggol bokong becak kemarin.

Tidak terasa Paryono sudah hampir 2 hari berada dirumah sakit, tp rasanya Paryono tidak mau pulang, karena ingin selalu dekat dengan suster tadi yang diketahui bernama Suryani. Paryono biasa memanggil suster Yani, untuk lebih mengakrabkan diri. Dan tidak disangka agaknya suster Yani juga menaruh perhatian lebih kepada Paryono, terbukti kalau didekat Paryono, suster Yani lebih lama dan lebih perhatian ketimbang kepada pasien lain. Dan itu dapat dibaca oleh Paryono dari gerak-gerik suster Yani yang selalu menaruh perhatian lebih kepadanya.

Akhirnya Paryono pun harus pulang karena dirasa kesehatanya sudah pulih, dan luka-luka yang dideritanyapun sudah baikan. Tapi Paryono sudah tidak kuatir lagi, karena dia sudah mengantongi nomer HP suster Yani, dan sudah tau pula alamat yang diberikan.

Sudah seminggu Paryono sembuh dari sakitnya, dan sudah tiga hari yang lalu dia sudah masuk kerja, dan selama itu Paryono dan suster Yani selalu ber-SMS untuk lebih mengakrabkan diri. Selama itu Paryono di beri tahu soal keluarga Yani, bahwa ibunya yang bernama Sugiyem adalah seorang janda, Yani juga punya dua orang adik seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki.

Dan sudah beberapa hari ini Paryono berkunjung kerumah Yani, awalnya adalah ketika Yani minta dijemput seusai kerja untuk diantar pulang. Dan dengan senang hati pula Paryono menjeput dan mengantarkan pulang. Otomatis Paryono ketika dirumah Yani juga berkenalan dengan ibu dan adik-adik Yani.

Malam itu adalah malam yang kesekian kalinya Paryono berkunjung ke rumah Yani, dan tidak seperti biasanya, malam itu Paryono tidak memberitahu dulu kepada Yani kalau akan berkunjung kerumahnya, sebelumnya dia sudah pamit kepada Yani tidak bisa menjemput karena ada tugas luar mendadak, sehingga tidak bisa menjemput Yani malam itu.

Paryono malam itu dirumah Yani, ditemani oleh ibu dan juga adik perempuan Yani yang bernama Dian. Dia berniat lebih mengakrabkan diri kepada keluarga Yani, dengan mengobrol tentang apasaja, yah tentang pekerjaan, juga tentang keadaan kelaurga Paryono.

Tidak terasa malam semakin larut, Paryono mulai gelisah menanti kedatangan Yani, yang tidak biasanya belum pulang padahal malam sudah semakin larut.

“Kok dek Yani belum pulang-pulang juga yah, Bu?”, tanya Paryono kepada Sugiyem.

“Wah, ndak tau yah nak Par.. biasanya sih jam segini Yani juga sudah pulang, tapi kok sudah malam begini Yani juga belum pulang”, jawab Sugiyem.

Malam semakin larut, dan yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Dikejauhan sana kampung tempat dimana Yani tinggal sudah sepi, rumah-rumah sudah tertutup dan ditinggal tidur oleh penghuninya. Tapi samat-samar ada suara-suara gaduh di luar sana yang semakin mendekat menuju rumah Yani. Suara gaduh itu semakin mendekat dan akhirnya pintu rumah itu di ketuk dari luar.

“Selamat malam Bu Sugiyem.. tolong pintunya di buka”, kata suara dari luar.

Setelah dibuka ternyata diluar sana Pak RT beserta beberapa orang pemuda sudah bergerombol dengan muka yang tidak bersahabat.

“Ada apa ini pak RT kok ramai-ramai dan malam begini berkunjung kerumah saya?”, tanya Sugiyem agak kebingungan demi melihat Pak RT beserta belasan pemuda.

“ Begini Bu Sugiyem, kedatangan saya beserta pemuda-pemuda kampung sini ada maksud untuk menegakkan peraturan di kampung kita yang menyebutkan bahwa kalau seorang laki-laki yang berkunjung ke tempat seorang perempuan sampai jam 12 malam maka mau tidak mau akan kita paksa untuk menikah” kata Pak RT.

“Tapi pak.. Nak Paryono datang ke sini ini karena menunggu anak saya yang sedang kerja”, jawab Sugiyem dengan ketakutan.

“Benar pak, saya ke sini menunggu kedatangan Yani, yang sampai saat ini belum juga pulang”, kata Paryono dnegan terbata-bata.

“Saya tidak peduli.. karena itu sudah peraturan dari kampung sini, yang sudah disetujui oleh warga, dan itu tentunya juga sudah di setujui juga oleh Bu Sugiyem sebagai warga”< jawab Pak Rt dengan keras.

Karena tetap ngeyel dan tidak mau tahu, hamper saja Paryono jadi bulan-bulanan para pemuda. Akhirnya dengan berat hati Paryono dan Sugiyem menyanggupi peraturan yang berlaku di kampung tadi.

Dan tidak berapa lama, Yanipun datang. Dia bingung karena melihat banyak orang di rumahnya. Dan kaki-kaki Yanipun lemas demi mendengar penjelasan dari Pak RT apa yang sebenarnya terjadi. Hampir saja Yani jatuh kalau tidak di tolong oleh beberapa pemuda, karena pingsan, demi melihat ibunya akan menikah dengan Paryono.

Dengan terbata-bata Paryono hanya bisa berucap lirih.

“Maaf dek Yani.. keadaan memang mengharuskan begini”, gumam Paryono.

Oalah ra oleh anak e Mbokne yo ra popo


Nasib atau Keadaankah ini namanya..??

0 comments

Bugel sebenarnya sudah bosan menjadi tukang becak di seputaran Sosrowijayan, karene hasil yang didapat tidak sebanding dengan tanaga dan waktu yang dikeluarkan. Tetapi apa boleh buat hanya itu yang bisa Bugel lakukan untuk menghidupi dirinya yang masih bujang. Untung bugel sudah punya langganan tetap, yaitu seseorang yah istilah kerennya sih ce panggilan, tapi kalo cewek panggilan kok mangkalnya di pinggir jalan, mungkin istilah panggilan itu karena kalau ada yang butuh jasanya dia dipanggil, entah itu orang naik motor, sukur-sukur dapet orang yang pake mobil, kan sambil numpang keren. Nama cewek yang menjadi langganan Bugel itu Suminah, biasa di panggil Mimin kalau dia pas dinas luar, eh maksudnya itu dinas dijalan itu.

Kebetulan hari itu seperti biasa Bugel menjemput Mimin di tempat kosnya, waktu hari sudah beranjak malam, dan suasana temaram mulai menghias Malioboro. Sebenarnya Bugel sudah sejak lama menaruh hati pada Mimin, semenjak dia selalu mengantar jemput Mimin dengan becak kesayangannya, benar apa kata pepatah Jawa “ witing tresno jalaran soko kulino”. Tapi istilah seperti itu tidak berlaku bagi Mimin yang menjual cintanya untuk beberapa lembar rupiah. Bagi Mimin yang ada adalah “ witing tresno jalaran seko cembanan limo”. Yah.. apa mau dikata Bugel hanya bisa memendam perasaannya dalam-dalam, karena dia takut kalau sampai menyatakan cinta, hanya akan dapat cibiran dari Mimin, dan pasti Mimin akan beralih ke tukang becak lain, dan itu bisa mengurangi penghasilan Bugel.

“Mas Bugel.. kok lama sih jemput Mimin.. udah dari tadi nih mas… sampe pegel aku nunggunya”, kata Mimin begitu Bugel sampai di depan kos Mimin.

“ Wah maaf yah dek Mimin, aku tadi disuruh mengantar Den Mas Paing beli klembak buat rokoknya.. yah maaf yah dek Mimin..”, jawab Bugel.

“Yah.. sudah ndak papa… wong ya Mas Bugel cari uang juga kok, tapi kasihan pelangganku mas, sudah nunggu.. ayo mas gek ndang cepet, keburu ditunggu neh”, sergah Mimin, yang langsung naik becak Bugel.

Dengan segera Bugel mengayuh becak menuju tempat biasa Mimin mangkal. Sepanjang perjalanan seperti biasa Mimin bercerita tentang keadaan keluarganya di kampung. Bapaknya yang senang main judi selalu memaksa simboknya memberikan uang hasil kiriman Mimin setiap bulannya. Keluarganya di kampung tidak ada yang tahu kalau Mimin menjual cinta di kota . Mereka tahunya Mimin benar-benar kerja bukan menjajakan diri. Dan karena cerita-cerita itulah timbul perasaan iba, kemudian timbul bibit-bibit perasaan yang baru kali ini dirasakan oleh Bugel. Tapi perasaan itu tidak bisa Bugel ungkapkan mengingat keadaanya yang cuma tukang becak. Mungkin Bugel pengecut ato apalah namanya, tapi nyatanya Bugel tidak kuasa untuk mengucapkan perasaanya kepada Mimin.

Tidak terasa perjalanan yang penuh perasaan itu sampai juga ditempat mangkal Mimin. Segera Mimin konsentrasi untuk melayani penggemar yang sudah menunggu. Saat itu Bugel sudah mulai menjauh dari tempat mangkal Mimin, dia tidak tega dan ada perasaan yang tidak bisa diterima kalau Mimin mendapat tamu. Tapi apa boleh buat memang itu jalan yang harus dilalui.

Setengah mengantuk Bugel di becaknya sambil menunggu langganan yang mungkin masih butuh jasanya untuk mengantar kemana saja. Ditengah-tengah kantuknya,terjadi ribut-ribut ditempat mangkal Mimin. Usut punya usut tenyata telah terjadi penggerebegan oleh aparat Pol PP. Bugel pun mencoba mendekat, dan ingin tahu apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya Bugel karena di sana, di truk yang digunakan untuk mengangkut wanita-wanita penjaja cinta, Mimin sudah ada disana, dengan tatapan kosong, tatapan yang tidak bermakna, tidak ada jerit ataupun tangis disana, mungkin Mimin sudah terbiasa dengan keadaan itu, keadaan yang memang memaksa dia bekerja dengan cara seperti itu. Bugel hanya bisa menerawang, entah apa yang ada dipikirannya


Kandas

0 comments

Sudah berulang kali Wakijo di peringatkan oleh bapaknya agar tidak berdekatan dengan Parijah alias Cempluk karena Pakdhe Pawiro Ekol ( bapak Wakijo) tau kalau Cempluk adalah bekas penyanyi dangdut kelas gedhekan, yang kalau pentas selalu menampilkan tarian yang seronok. Pakdhe Pawiro khawatir kalau-kalau Wakijo sampai kepencut alias tergila-gila kepada Cempluk. Dan hal itu bisa merusak martabat dari Pakdhe Pawiro sebagai orang yang di segani di desa Warudoyong. Tetapi dasar Wakijo sudah terlanjur cinta, apa yang di omongkan oleh bapaknya ibarat masuk telinga kanan tidak diolah dulu diotak, langsung keluar lewat telinga kiri. Wakijo menganggap omongan bapaknya sebagai angin lalu, bahkan malah menganggap sebagai penghalang dalam mendapatkan cinta Cempluk, yang sudah lama diidam-idamkan, sebagai tempat untuk menabur benih, bagi calon anaknya kelak ( wuih puitis bow..). Wakijo bertekad akan berusaha mendapatkan Cempluk bagaimanapun caranya. Kalau perlu apaun akan dilakukan demi mendapatkan si centil Cempluk, ibarat pepatah mengatakan “ kalah rupo menang dupo”.

Dan pagi itu Wakijo siap-siap untuk wakuncar alias berkunjung ke rumah Cempluk untuk melakukan pdkt. Disiapkannya dirinya sebaik mungkin agar di depan Cempluk terlihat ganteng, macho, untuk dapat memikat dan meyakinkannya agar mau menjadi pacar, atau kalau perlu jadi istri sekaligus. Motor yang sehari-hari tidak pernah dimandikan, pagi itu Wakijo dengan semangat mencuci motor kesayangan, pemberian bapaknya waktu lulus SMA dengan predikat seadanya asal lulus, karena Pakdhe Pawiro tahu kalau otak Wakijo memang agak bebel, alias pong-pong bolong.

“Ayo, le.. kamu tak mandikan biar kinyis-kinyis, kalau Cempluk mbonceng biar kelihatan jos gandhos”, berkata Wakijo kepada motor CB100 modifikasi yang menjadi motor kesayangannya.

Sejenak kemudian dengan gagahnya Wakijo ngeslah ( menstater) motornya. Setelah di panaskan sejenak dengan membleyer-bleyer, Wakijo segera berangkat ke rumah Cempluk sang pujaan hati.

Sepanjang jalan menuju rumah Cempluk, angan-angan Wakijo melayang membayangkan bagaimana bahagianya kalau dapat bersanding dengan sang pujaan.

“ Mas.. Wakijo... sini dong.. masa istrinya dibiarin sendiri dikamar, kan acara pengantinnya sudah selesai”, berkata Cempluk seusai acara resepsi pernikahan.

“ Sebentar to.. manis.. Mas masih susah ini mencopot keris yang ada di pinggang”, sambil uwat-uwet Wakijo berusaha mencopot keris yang terselip di pinggang.

“ Mbok sudah.. sini aku copotin kerisnya, biar keris yang satunya bisa nancep ditempatku hihihihi”, jawab Cempluk dengan genitnya sambil mendekati Wakijo.

“ Ini..ini copotin kerisnya, aku juga sudah tidak tahan, kerisku yang satunya sudah pengen nancep”, jawab Wakijo.

Dan karena saking terburu-buru dan sudah nafsu, tidak terasa kain yang masih di pakai Wakijo menghalangi kakinya untuk melangkah.

Gubrakkk!!!!!!! Petok.. petok...keokk...keokkkk

“ Cenanangan!!!! Matanya ditaruh didengkul ya...!!! Kronjot isi ayam segini gedenya masih juga di tabrak..??”, maki Kang Ponidi penjual ayam tetangga desa Wakijo yang hari itu mau berangkat kepasar. Wakijo hanya bisa pringisan menahan sakit, karena telah menabrak tampat ayam Kang Ponidi, yang penuh dengan ayam, sehingga ayamnya pada berlarian.

“ Aduh biyung.... ayamku kabur semua”, ratap Kang Ponidi.

Dengan memegang sebilah bambu Kang Ponidi mengancam Wakijo, “ kalau ayamku tidak kamu ganti awas, kelakon tak juing-juing kwandamu!!!.. thok..thok..thok..thok”.

Ealah... Kang Ponidi ini dimana-mana kok kalau dialog selalu pakai bahasa kethoprak, mentang-mentang dia sedang latihan kethoprak untuk pentas besok pas acara tujuhbelasan.

“ Ma... maa... maaf kang, ini ayam yang kabur saya ganti yah, maaf lho kang.. tidak sengaja”, dengan ketakutan dan menahan sakit Wakijo menyerahkan uang 200 ribu untuk mengganti ayam-ayam yang kabur.

“ Besok lagi kalau dijalan itu jangan meleng, bisa-bisa ditabrak mobil kamu, untung yang ditabrak ayam, ya sudah.. sana pergi, saya tak pulang saja ndak jadi jual ayam” jawab Kang Ponidi sambil menuntun sepedanya.

Dengan tertatih-tatih Wakijo menaiki CB100nya melanjutkan perjalanan ke rumah Cempluk. Sampai di gang menuju rumah Cempluk, dia agak heran, kok banyak orang menuju rumah Cempluk, ada apakah gerangan. Tetapi keheranan Wakijo ditahan, dan dia segera menuju rumah Cempluk. Karena penasarannya sudah tak tertahankan lagi maka Wakijo bertanya pada orang yang akan menuju tempat Cempluk.

“ Wah .. mas ini tidak tahu ya.. Cempluk hari ini dilamar orang”, berkata orang itu setelah Wakijo bertanya. Betapa terkejutnya Wakijo, mendengar keterangan dari tetangga Cempluk, tapi demi melihat siapa calon suami Cempluk, diapun nekat mendekatai rumah Cempluk. Setelah sampai didepan rumah, Wakijo pelan-pelan mendekati rumah yang sudah penuh dengan tetangga yang menghadiri prosesi lamaran si Cempluk.

Dan alangkah terkejut dan setengah tidak percayanya Wakijo, karena ternyata calon suami Cempluk adalah......... Pakdhe Pawiro Ekol ... yah ... bapaknya sendiri.. Serasa lemas kaki-kaki Wakijo demi mengetahui keadaan tersebut. Dengan langkah gontai sambil menunduk Wakijo pulang. Dia tidak bisa berpikir lagi knapa bapaknya tega menusuk dari belakang. Ohh Cempluk, besok-besok aku akan memanggilmu simbok.
Dasar nasib.... memang harus diterima.


Adakah Ilmu Ikhlas Itu?

0 comments

Sebenarnya adakah ilmu ikhlas itu? Saya pernah melihat sebuah film yang menceritakan tentang seseorang yang dengan gigihnya mengejar seorang gadis anak seorang kyai. Dengan kenekatannya di berusaha mendekati gadis itu, biarpun ada halangan dari orangtua si gadis. Dia tetap nekat biarpun kyai bapak gadis tadi mengajukan syarat-syarat yang mungkin dirasa berat bagi orang yang tidak biasa melakukan. Tetapi demi mendapatkan seseorang yang dicintai, maka seberat apapun syarat tersebut ia sanggupi juga. Maka rangkaian kejadian yang lucu, mengharukan, bahkan konyol terjadi dalam film tadi. Bagaimana si pemuda tadi belajar untuk menjalankan syarat yang diajukan ayah si gadis. Sampai akhirnya tibalah penentuan tersebut. Ternyata si gadis telah dijodohkan oleh pemuda lain yang menurut pandangan dari pak kyai lebih memenuhi syarat sebagai manantunya. Dan pak kyai mengajukan satu syarat lagi yaitu si pemuda harus menguasai apa yang dinamakan ilmu ikhlas, yang ternyata maksud dari pak kyai adalah bahwa si pemuda harus mengikhlaskan jikalau si gadis telah dijodohkan dengan orang lain. Dengan ketabahan dan gentle maka si pemuda pun tidak keberatan jika si gadis telah mempunyai jodoh yang lain selain dirinya. Dia telah mengikhlaskan kalau si gadis memang bukan untuknya. Tetapi ternyata pak kyai malah terkesan dengan apa yang dilakukan oleh pemuda tadi. Menurut pak kyai dialah yang telah dapat menguasai apa yang di namakan ilmu ikhlas. Akhirnya bisa ditebak ending dari film tadi.

Kalau kita lihat berdasarkan paparan diatas memang apa yang dinamakan ilmu ikhlas itu adalah sesuatu yang harus kita relakan kalau memang itu belum menjadi hak kita. Tetapi kadang kita sebagai manusia yang penuh dengan ego yang tinggi tidak bisa terima dan mungkin akan menyalahkan orang lain apabila tujuan atau sesuatu yang kita harapkan tidak kita dapatkan. Dan hal itu sering terjadi pada kita sebagai manusia yang penuh dengan ketidak sempurnaan. Seringkali malah terjadi penipuan pada hati kecil kita. Kita sering berkata pada orang lain bahwa kita rela melepas sesuatu entah itu apa, tetapi dalam hati kecil kita masih tidak rela kenapa hal itu bisa terjadi, apa yang menjadi kesalahan kita sehingga sesuatu yang kita harapkan ternyata tidak bisa kita raih, atau kita ambil.

Itulah kelemahan kita sebagai manusia biasa, yang kadang dengan kecongkakan dan kepongahan kadang lupa bahwa masih ada yang mengatur kita sesuai jalur yang ada. Kita sebagai manusia masih sering lupa bahwa dibalik semua yang terjadi akan ada hikmah yang mungkin akan kita ketahui kelak di kemudian hari. Perkataan orang yang mengatakan bahwa kalau kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan saya percaya itu

Sampun nggih .. meniko tangane sampun kesel.. hahahhaa .. ndobosaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn


Kencan

0 comments

Hari itu Lek Paimo tidak seperti biasanya, yang selalu minum kopi di pagi hari sambil metheti burung decu kesayangannya di pinggir blumbang sambil menebar makanan buat ikan-ikan kesayangannya. Tetapi hari itu Lek Paimo pagi-pagi sudah mandi, dan dandan tidak lupa juga menyemprotkan minyak wangi yang katanya mengandung aroma kejantanan laki-laki. Pagi itu Lek Paimo ada janji dengan Sri Gothil bakul pasar yang setiap hari lewat di depan rumahnya sambil plirak-plirik, kalau melihat Lek Paimo yang sedang metheti burung decu kesayangannya. Dengan sigap di tuntunnya motor pitung merah yang selalu dielus-elus dikala senggang, sambil komat-kamit baca mantra ia menstater pitungnya. Mak greng…. Hiduplah si pitung, di bleyer-bleyer untuk memanaskan mesin. Sekejap kemudian dengan gagah Lek Paimo segera berangkat untuk memenuhi janji ketemu dengan Sri Gothil yang katanya sudah menunggu di prempatan pojok desa.

Di sepanjang jalan Lek Paimo yang dasarnya selalu dandan klimis matanya selalu plirak-plirik, kiri-kanan karena pagi itu banyak sekali anak-anak SMA yang mau berangkat ke sekolah. Dalam hati Lek Paimo berkata, “ wah .. wah kok ya anak cewek sekarang kok le semlidut-semlidut, jian… serasa jadi pengen muda lagi”. Tak terasa perjalanan Lek Paimo sudah mendekat tempat yang sudah di janjikan Sri Gothil yaitu perempatan pojok pasar, biasa tempat mangkal si Sri. Dengan senyum yang dimanis-maniske Lek Paimo mendekati Sri Gothil. Dengan senyum agak genit dan dibikin manja Sri Gothil menyambut kedatangan Lek Paimo dengan cubitan mesra. Lek Paimo mak griyel di cubit tangan Sri Gothil yang menurut Lek Paimo serasa di sentuh bidadari.

Akhirnya sepakat mereka berdua akan ke tempat wisata yang suejuk. Berdua mereka boncengan naik si pitung. Tidak terasa sampailah keduanya di tempat yang dituju. Karena sudah tidak tahan maka mereka berdua segera menuju satu tempat yang aman untuk berduaan. Diselingi tawa cekikak-cekikik mereka berdua menikmati keindahan alam dan juga keindahan suasana.

Tapi tiba-tiba… mak jegagik.. datanglah orang tinggi besar, item, yah.. pokoknya sangarlah yang mendekati mereka berdua. Dan Lek Paimo tahu kalau orang itu adalah suami Sri Gothil yang tidak tahunya menguntit kepergian mereka berdua dari kejauhan.
Dengan garang Lek Paimo yang sudah ketakutan di angkat dan akhirnya mak plek..plek..plek.. Lek paimo di antemi sampe babak bundas. Tapi anehnya Sri Gothil malah senyum-senyum melihat Lek Paimo diantemi dan di gebugi . Bahkan dengan tenangnya dia merogoh kantong tempat dompet Lek Paimo. Dia mengambil dompet Lek Paimo dan memeriksa isinya. Dengan terkjut Sri Gothil berkata,” halah.. halahhh ternyata ki kamu kere juga to.. huh tiwas aku mau kamu ajak ke sini Lek ..lek…. kalau tau kamu kere gak mau aku di ajak, ayo pulang kang.. biar Lek Paimo di sini saja.. huh.. ternyata kere!!!” Segera Sri Gothil yang maunya memeloroti duit Lek Paimo dengan dibantu suaminya meninggalkan tempat itu sambil menggerutu.

Lek Paimo yang sudah terlanjur babak belur dihajar suami Sri Gothil hanya bias thenger-thenger meratapi nasib yang menimpanya. Maunya senang-senang malah dapet bogem mentah dari suami Sri Gothil yang memang sudah terkenal brangasan. Mending tadi minum kopi dirumah sambil metheti burung decu kesayangannya malah tidak akan ada kejadian seperti ini. Oh …. Nasib nasib …


Cinta Sudah Lewat by Kahitna

0 comments

Kadang ingin aku bertemu
Dan berbagi waktu yg terlalui
Sukar tuk sadari
Ku tak boleh mengingini

Reff:

Tanpamu cinta tak berarti
Cinta sudah lewat
Tak kukira kan begini
Mengapa harus kau terikat
Meski tlah terucap
Hanya aku yg ada hatimu

Pernah kucoba menyisihkan
Namun hati tak rela tuk akui
Kenyataan yang ada kasih
Kau tak mungkin ada disini

Reff:

Tanpamu cinta tak berarti
Cinta sudah lewat
Tak kukira kan begini
Mengapa harus kau terikat
Meski tlah terucap
Hanya aku yg ada di hatimu

Bridge:
Bila memang cinta tak harus
Slalu miliki namun nyata nya tak mudah melupakan


Sekilas Wajah

  • Seseorang yang mencoba mencoretkan sesuatu yang ada di otaknya
  • Catatan itu kadang cerah, kadang buram, dan seringkali pekat tanpa bisa di lihat
  • Karena itu maaf apabila tidak enak untuk dilihat, apalagi dibaca,atau bahkan dinikmati

Jam Gandul


Yang terakhir

Dibuang sayang

Links


ATOM 0.3

Kotak Conthongan



by wdcreezz.com

Name

Email/URL

Message