Sebenarnya Paryono sudah sudah pantas untuk menikah, karena disamping umurnya yang sudah 29 tahun juga dia sudah punya pekerjaan tetap, biarpun dia cuma karyawan biasa disebuah perusahaan pengiriman barang. Posisi di perusahaan itupun sudah bias dikatakan lumayan yaitu sebagai tukang cek barang-barang yang akan dikirimkan kepada pelanggan. Tetapi benar apa kata kyai-kyai bahwa jodoh, rejeki dan mati adalah Tuhan yang menentukan, biarpun kita tetap harus berusaha untuk itu. Dan Paryono juga memaklumi hal itu, mungkin jodoh belum mampir ketempatnya. Sudah dua kali Paryono pacaran, tetapi dua kali itu juga Paryono kandas di tengah jalan.
Pagi itu Paryono berangkat kerja seperti biasanya, dengan mengendarai motor Honda cap Win 100 yang lumayan buat ukuran Paryono. Dan Paryono patut berbangga karena motor tersebut hasil jerih payahnya selama bekerja. Dia hari itu ada kerjaan mengantarkan barang di tempat pelanggan, karena ada salah satu anak buahnya yang sakit, sehingga terpaksa Paryono menggantikan anak buahnya itu.
Sepanjang perjalanan ke alamat yang dituju kadang Paryono melamun memikirkan jodoh yang belum juga didapatkanya. Tiba-tiba saja… mak jegagik.. ada becak dari arah yang berlawanan menyeberang dengan seenak perutnya. Alhasil dengan sangat terpaksa Paryono menyenggol juga bokong si becak, dan…. Gubrakkkkk…. Duerr… Paryono merasa dunianya menjadi gelap, segelap jodoh yang di carinya.
“Eh masnya sudah bangun.. selamat pagi mas.. “ secercah senyum manis diberikan kepada Paryono, dari seorang yang berpakaian putih-putih.
“ Dimana saya ini, apa saya sudah bertemu sama bidadari..??”, batin paryono demi melihat sesosok tubuh di depannya, dengan senyum manisnya.
“Mas.. istirahat saja kalau masih merasa pusing, atau sakit, nanti dokter akan datang memeriksa”, kata perempuan cantik, didepan Paryono yang ternyata seorang suster sebuah Rumah sakit.
Dan ternyata Paryono sempat pingsan selama semalam, akibat kecelakaan itu, dan sekarang Paryono hanya bisa mengingat-ingat kejadian itu. Dan suster cantik itu senyumnya begitu mempesona, bagaikan setetes air di padang gersang bagi Paryono yang tengah terbaring lemah, akibat menyenggol bokong becak kemarin.
Tidak terasa Paryono sudah hampir 2 hari berada dirumah sakit, tp rasanya Paryono tidak mau pulang, karena ingin selalu dekat dengan suster tadi yang diketahui bernama Suryani. Paryono biasa memanggil suster Yani, untuk lebih mengakrabkan diri. Dan tidak disangka agaknya suster Yani juga menaruh perhatian lebih kepada Paryono, terbukti kalau didekat Paryono, suster Yani lebih lama dan lebih perhatian ketimbang kepada pasien lain. Dan itu dapat dibaca oleh Paryono dari gerak-gerik suster Yani yang selalu menaruh perhatian lebih kepadanya.
Akhirnya Paryono pun harus pulang karena dirasa kesehatanya sudah pulih, dan luka-luka yang dideritanyapun sudah baikan. Tapi Paryono sudah tidak kuatir lagi, karena dia sudah mengantongi nomer HP suster Yani, dan sudah tau pula alamat yang diberikan.
Sudah seminggu Paryono sembuh dari sakitnya, dan sudah tiga hari yang lalu dia sudah masuk kerja, dan selama itu Paryono dan suster Yani selalu ber-SMS untuk lebih mengakrabkan diri. Selama itu Paryono di beri tahu soal keluarga Yani, bahwa ibunya yang bernama Sugiyem adalah seorang janda, Yani juga punya dua orang adik seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki.
Dan sudah beberapa hari ini Paryono berkunjung kerumah Yani, awalnya adalah ketika Yani minta dijemput seusai kerja untuk diantar pulang. Dan dengan senang hati pula Paryono menjeput dan mengantarkan pulang. Otomatis Paryono ketika dirumah Yani juga berkenalan dengan ibu dan adik-adik Yani.
Malam itu adalah malam yang kesekian kalinya Paryono berkunjung ke rumah Yani, dan tidak seperti biasanya, malam itu Paryono tidak memberitahu dulu kepada Yani kalau akan berkunjung kerumahnya, sebelumnya dia sudah pamit kepada Yani tidak bisa menjemput karena ada tugas luar mendadak, sehingga tidak bisa menjemput Yani malam itu.
Paryono malam itu dirumah Yani, ditemani oleh ibu dan juga adik perempuan Yani yang bernama Dian. Dia berniat lebih mengakrabkan diri kepada keluarga Yani, dengan mengobrol tentang apasaja, yah tentang pekerjaan, juga tentang keadaan kelaurga Paryono.
Tidak terasa malam semakin larut, Paryono mulai gelisah menanti kedatangan Yani, yang tidak biasanya belum pulang padahal malam sudah semakin larut.
“Kok dek Yani belum pulang-pulang juga yah, Bu?”, tanya Paryono kepada Sugiyem.
“Wah, ndak tau yah nak Par.. biasanya sih jam segini Yani juga sudah pulang, tapi kok sudah malam begini Yani juga belum pulang”, jawab Sugiyem.
Malam semakin larut, dan yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Dikejauhan sana kampung tempat dimana Yani tinggal sudah sepi, rumah-rumah sudah tertutup dan ditinggal tidur oleh penghuninya. Tapi samat-samar ada suara-suara gaduh di luar sana yang semakin mendekat menuju rumah Yani. Suara gaduh itu semakin mendekat dan akhirnya pintu rumah itu di ketuk dari luar.
“Selamat malam Bu Sugiyem.. tolong pintunya di buka”, kata suara dari luar.
Setelah dibuka ternyata diluar sana Pak RT beserta beberapa orang pemuda sudah bergerombol dengan muka yang tidak bersahabat.
“Ada apa ini pak RT kok ramai-ramai dan malam begini berkunjung kerumah saya?”, tanya Sugiyem agak kebingungan demi melihat Pak RT beserta belasan pemuda.
“ Begini Bu Sugiyem, kedatangan saya beserta pemuda-pemuda kampung sini ada maksud untuk menegakkan peraturan di kampung kita yang menyebutkan bahwa kalau seorang laki-laki yang berkunjung ke tempat seorang perempuan sampai jam 12 malam maka mau tidak mau akan kita paksa untuk menikah” kata Pak RT.
“Tapi pak.. Nak Paryono datang ke sini ini karena menunggu anak saya yang sedang kerja”, jawab Sugiyem dengan ketakutan.
“Benar pak, saya ke sini menunggu kedatangan Yani, yang sampai saat ini belum juga pulang”, kata Paryono dnegan terbata-bata.
“Saya tidak peduli.. karena itu sudah peraturan dari kampung sini, yang sudah disetujui oleh warga, dan itu tentunya juga sudah di setujui juga oleh Bu Sugiyem sebagai warga”< jawab Pak Rt dengan keras.
Karena tetap ngeyel dan tidak mau tahu, hamper saja Paryono jadi bulan-bulanan para pemuda. Akhirnya dengan berat hati Paryono dan Sugiyem menyanggupi peraturan yang berlaku di kampung tadi.
Dan tidak berapa lama, Yanipun datang. Dia bingung karena melihat banyak orang di rumahnya. Dan kaki-kaki Yanipun lemas demi mendengar penjelasan dari Pak RT apa yang sebenarnya terjadi. Hampir saja Yani jatuh kalau tidak di tolong oleh beberapa pemuda, karena pingsan, demi melihat ibunya akan menikah dengan Paryono.
Dengan terbata-bata Paryono hanya bisa berucap lirih.
“Maaf dek Yani.. keadaan memang mengharuskan begini”, gumam Paryono.
Oalah ra oleh anak e Mbokne yo ra popo